Eksposisi Kelompok Raja-raja
Perikop : 1 Timotius 6:6-19
13 September 2022
Merasa CUKUP di dalam TUHAN
Shalom, selamat malam bapak ibu yang dikasihi Tuhan Yesus. Semoga kita semua dalam keadaan baik dan sehat. Namun apapun keadaan kita saat ini, kiranya kita tetap bersyukur dan selalu percaya kepada Tuhan yang mencukupkan hidup kita.
Bapak, ibu beberapa bulan yang lalu suami saya diajak temannya untuk ikut investasi trading forex (jual beli mata uang asing), menurut temannya selama ber-investasi beberapa bulan, dia sudah mendapatkan keuntungan puluhan juta. Sebab itu dia berani ber-investasi hingga ratusan juta rupiah. Kelihatannya menarik, mudah dan menguntungkan. Namun saya dan suami berpikir, secara logika ini tidak masuk akal dan mencurigakan. Ternyata belakangan, teman suami saya tidak lagi mendapatkan keuntungan, perusahaan investasinya ilegal dan dibekukan. Sampai sekarang uang yang diinvestasikannya tidak bisa ditarik kembali.
Ribuan orang juga tertipu oleh bujuk rayu Crazy Rich, Indra Kenz dan Doddie Salman, yang sering memamerkan kekayaannya di media sosial, namun akhirnya mereka ditangkap polisi, karena kasus penipuan trading binary option. Banyak orang juga tergoda dengan tawaran melipat gandakan uang melalui "orang pintar", meskipun dengan cara yang aneh, mereka menuruti saja seperti kerbau dicucuk hidungnya. Mengapa begitu banyak orang mudah tertipu ?
Bapak, ibu, dunia kita hari ini semakin membawa kita kepada sifat materialistik. Manusia semakin bergaya hidup konsumtif. Iklan-iklan berbagai produk, mulai dari kosmetik, makanan, pakaian, sampai kendaraan, berseliweran dan begitu memikat. Berbagai media sosial pun menampilan gaya hidup banyak orang secara terbuka dan terlihat. Semuanya ini membangkitkan hasrat banyak orang untuk dapat tampil seperti orang lain dan memiliki banyak uang untuk memenuhinya. Orang tidak lagi dapat membedakan antara "apa yang menjadi kebutuhan" dan "apa yang menjadi keinginan". Meskipun untuk mendapatkan keinginannya ditempuh cara-cara yang tidak benar, seperti korupsi, menipu, hingga membunuh orang untuk merampas hartanya. Apalagi kalau ada cara yang instan untuk mencapainya, mengapa tidak kita coba. Meskipun pada akhirnya kita mendapat kerugian.
Ternyata, ini bukan hanya dilakukan oleh orang yang ekonominya minim, tapi juga oleh orang-orang yang secara materi sudah berlebih. Mengapa, karena orang selalu merasa tidak cukup dan ingin lebih.
Bapak,ibu yang dikasihi Tuhan, dalam 1 Timotius 6 : 8, kita diingatkan pentingnya merasa "cukup". Bukan berarti kita menjadi santai dan tidak berusaha, karena untuk mencapai cukup dalam memenuhi kebutuhan hidup kita, tentunya kita tetap harus bekerja, seperti yang diperintahkan Tuhan. Namun dalam usaha yang kita lakukan kita harus senantiasa bersandar kepada Tuhan yang kita percaya dapat mencukupkan hidup kita, dan bukan untuk berburu uang demi kekayaan. Sebab seperti yang dikatakan dalam 1 Timotius 6 :8-9 akar segala kejahatan itu ialah cinta uang. Sebab keinginan untuk berburu uang membuat orang menyimpang dari iman dan jatuh ke dalam pencobaan, berbagai duka dan kebinasaan.
Kata cukup dalam bahasa aslinya Yunani, adalah autarkeias yang hendak menunjukkan sikap hati yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Tanpa rasa cukup, kita akan dikendalikan oleh nafsu duniawi dan keinginan daging. Namun sayangnya rasa tidak cukup, dirasakan hampir semua orang.
"Rasa cukup" itu memang relatif. Rasa cukup saya dengan bapak-ibu atau orang lain tentu tidak sama. Akan tetapi, kita dapat menguji apakah yang diingini itu memang benar-benar kebutuhan, atau hanya karena serakah dan untuk kesombongan atau meningkatkan harga diri. Kalau kita cukup dengan pakaian dan tas yang sederhana, mengapa harus memaksakan diri untuk membeli yang mahal. Kalau kita merasa cukup dengan menyekolahkan anak di sekolah negeri, kenapa harus memaksakan diri untuk bersekolah di sekolah swasta terkenal yang mahal. Demikian juga, ketika kita cukup dengan motor, kita harus merasa puas dengan motor. Namun kalau ternyata memang kita membutuhkan mobil, apa salahnya? Tapi jangan berupaya memiliki mobil dengan dasar kesombongan atau agar dipandang orang.
Jadi tidak semua keinginan kita adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Dalam 1 Timotius 6:8 dikatakan, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." Maksud ayat ini adalah adanya hal-hal penting yang membuat seseorang dapat menjalani hidup ini. Dalam doa Bapa kami, Yesuspun mengajarkan : berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.
Bapak, ibu yang dikasihi Tuhan, perikop ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa orang yang berusaha untuk menjadi kaya ataupun ingin memiliki sesuatu serta orang yang terlahir kaya, itu salah, namun apa tujuannya dan dengan cara bagaimana ia mendapatkannya, apakah dipakai sesuai dengan kehendak Tuhan. Kitapun diingatkan untuk tidak terikat kepada harta dan kekayaan yang kita miliki, karena akan membuat kita tidak lagi mengandalkan diri kepada Allah, tetapi kepada sesuatu yang hanya bersifat sementara.
Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri dengan rasa cukup atas apa yang kita miliki saat ini. Namun ketika kita membutuhkan sesuatu, berusahalah dengan mengandalkan Tuhan dan melakukannya di dalam kebenaran. Jika tujuan hidup kita hanyalah berupaya mengumpulkan banyak uang dan memiliki berbagai barang yang mahal dan mewah, supaya kita dipandang orang dan dapat bersenang-senang, maka kita menjadi sama seperti perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh, yang menimbun kekayaannya di dalam lumbung, dan tidak menyadari bahwa ada kehidupan setelah kematian dan kekayaannya di dunia tidak dapat dibawa.
Dalam 1 Timotius 6:17-19, orang-orang kayapun diingatkan agar mereka berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan dan suka memberi. Pesan ini, sesungguhnya ditujukan bukan hanya bagi mereka yang memiliki harta banyak, tapi bagi semua orang tanpa kecuali. Ketika kita menerima Kristus sebagai Juruselamat kita, kita semua dipanggil untuk melakukan kebajikan, suka memberi dan berbagi kasih Kristus. Inilah harta sesungguhnya dalam hidup kita di masa mendatang. Berapapun harta yang kita miliki di dunia, tidak dapat kita bawa ketika hidup kita di dunia berakhir, meskipun itu dimasukkan ke dalam peti mati kita. Tradisi dalam orang Cina ketika ada yang meninggal, khususnya orang kaya, akan dibuatkan duplikat berbagai barang seperti mobil, rumah, uang dll. lalu dibakar, agar orang yang meninggal itu tidak kekurangan di alam baka. Ini menunjukkan, bahwa benda apapun tidak akan pernah dapat dibawa ke alam baka, kecuali secara simbolik.
Bapak-ibu, sebagaimana dikatakan di atas, kita yang hidup berkelebihan dipanggil untuk mau berbagi kepada mereka yang membutuhkan, karena kita mempunyai tanggung jawab atas berkat-berkat yang dikaruniakan Allah kepada kita. Panggilan inipun berlaku bagi kita yang hidup biasa saja atau bahkan minim secara ekonomi, karena sesungguhnya banyak cara untuk menyatakan kasih dan berkat Tuhan kepada sesama.
Sam Bankman-Fried adalah anak muda kaya raya dan suka beramal. Harta kekayaannya sekitar 314 triliun. Sejak kecil dia ingin menjadi manusia yang sangat kaya : "Aku ingin menjadi kaya bukan karena suka uang, tapi karena aku ingin memberikan uang itu untuk amal". Dan ketika ia berhasil, setengah kekayaannya disalurkan untuk donasi.
Namun berbagi dan berbuat kebaikan, bukan hanya dilakukan ketika kita punya harta banyak. Kadang kita berpikir bagaimana mungkin saya dapat memberi, sedangkan saya tidak punya uang lebih, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan saya bahkan masih kurang. Karena itu, kita tidak pernah dapat memberi kepada orang lain. Mother Theresa memberikan dari kemiskinannya, memberikan yang ia miliki, memberi kasih, perhatian dan pelayanan kepada orang-orang miskin di India. Walaupun untuk melakukkannya mungkin diperlukan pengorbanan atau apa yang kita lakukan terlihat sederhana, namun ketika kita melakukan dengan tulus, semuanya akan berharga di mata sesama dan Tuhan.
Bapak, ibu, mari kita terus belajar dan memohon pimpinan Tuhan, agar kita dapat memiliki rasa rasa cukup di dalam Tuhan.
Dengan memiliki rasa cukup, maka kita mampu mengucap syukur kepada Tuhan.
Dengan memiliki rasa cukup, kita dapat fokus bertanding dalam iman, karena tidak dibebani oleh nafsu duniawi dan kekuatiran.
Dengan memilki rasa cukup, kitapun mampu berbuat kebaikan dan berbagi kepada orang lain.
Mari selama kita hidup di dunia, kita berjuang mengumpulkan harta yang kekal. Jangan mencintai uang melebihi cinta kita kepada Tuhan dan jangan menjadikan kekurangan kita dalam hal ekonomi membuat kita meninggalkan Tuhan. Sesungguhnya Tuhanlah pemilik segalanya dan IA akan mencukupkan kita yang mau percaya dan bersandar kepada-Nya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar